JAKARTA - Pergerakan harga batu bara kembali menunjukkan arah penguatan setelah sempat tertekan dalam beberapa hari sebelumnya.
Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa komoditas energi tersebut masih memiliki daya tarik kuat di tengah ketidakpastian transisi energi global. Pasar menilai batu bara masih memegang peran penting sebagai penopang kebutuhan energi, terutama ketika permintaan listrik terus meningkat seiring perkembangan industri dan teknologi.
Pada perdagangan Selasa, harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup menguat. Posisi ini sekaligus menjadi level tertinggi dalam sekitar dua pekan terakhir, menandai pembalikan arah setelah dua hari berturut-turut mengalami pelemahan.
Harga Menguat Setelah Dua Hari Terkoreksi
Harga batu bara ICE Newcastle tercatat berada di level US$ 107,65 per ton. Angka tersebut naik 0,51% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Kenaikan ini sekaligus mematahkan tren koreksi yang terjadi selama dua sesi perdagangan sebelumnya.
Dalam dua hari berturut-turut sebelum penguatan ini, harga batu bara tergerus tipis dengan total penurunan sekitar 0,28%. Tekanan tersebut membuat pelaku pasar bersikap lebih hati-hati, menunggu katalis baru yang dapat mendorong harga kembali naik.
Penguatan pada perdagangan terakhir dinilai sebagai respons pasar terhadap sentimen global yang kembali mendukung komoditas energi fosil. Harga yang kini berada di titik tertinggi sejak 29 Desember tersebut memberikan indikasi bahwa tekanan jual mulai mereda.
Pandangan JPMorgan Soal Transisi Energi
Mengutip Bloomberg News, JPMorgan Chase & Co menilai bahwa proses transisi menuju energi baru dan terbarukan kemungkinan membutuhkan waktu lebih panjang dari perkiraan awal. Kondisi tersebut membuat volatilitas harga energi, termasuk batu bara, diperkirakan tetap tinggi.
“Kita seperti mengulang kembali. Transisi ke energi bersih masih akan terjadi, tetapi rasanya akan lebih memakan waktu dari perkiraan semula. Volatilitas juga akan tinggi,” ungkap James Janoskey, Global Co-Head of Natural Resources Group di JPMorgan.
Pernyataan ini mencerminkan pandangan bahwa meskipun arah kebijakan global mengarah ke energi bersih, realisasi di lapangan menghadapi berbagai tantangan. Faktor infrastruktur, biaya, serta kebutuhan energi yang terus meningkat menjadi penghambat percepatan transisi.
Energi Fosil Masih Dibutuhkan
Menurut Janoskey, JPMorgan tetap berkomitmen mendukung pembiayaan transisi energi. Namun, dalam waktu yang bersamaan, peningkatan aktivitas ekonomi berbasis teknologi justru mendorong permintaan energi konvensional.
Maraknya pembangunan pusat data serta perkembangan kecerdasan buatan membuat konsumsi listrik melonjak signifikan. Kondisi ini membuat energi fosil, termasuk batu bara, kembali menjadi pilihan utama karena mampu menyediakan pasokan stabil dalam jumlah besar.
“Prediksi bahwa penggunaan energi fosil akan turun belum terwujud. Energi fosil masih akan memainkan peran penting dalam bauran energi dalam waktu dekat,” katanya.
Pandangan ini sejalan dengan kondisi pasar yang masih memberikan ruang bagi batu bara sebagai sumber energi andalan, terutama di negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Sentimen Global Dorong Harga Tetap Stabil
Kombinasi antara kebutuhan energi yang tinggi dan transisi energi yang berjalan lebih lambat menjadi faktor utama penopang harga batu bara. Pelaku pasar menilai bahwa permintaan jangka pendek hingga menengah masih cukup solid, meskipun dalam jangka panjang tekanan menuju energi bersih akan terus meningkat.
Selain itu, kebijakan energi di sejumlah negara besar juga turut memengaruhi pergerakan harga. Penyesuaian produksi listrik, dinamika pasokan, serta kebijakan lingkungan menjadi faktor yang terus dipantau pasar.
Dalam situasi seperti ini, harga batu bara cenderung bergerak fluktuatif, dengan potensi penguatan ketika muncul sentimen permintaan dan risiko pasokan.
Analisis Teknikal Pergerakan Harga
Dari sisi teknikal, pergerakan harga batu bara pada kerangka waktu harian menunjukkan kecenderungan bullish. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 63, yang menandakan harga masih berada dalam tren penguatan.
RSI di atas level 50 umumnya mencerminkan dominasi tekanan beli dibandingkan tekanan jual. Hal ini mengindikasikan bahwa minat pasar terhadap batu bara masih cukup kuat dalam jangka pendek.
Namun demikian, indikator Stochastic RSI 14 hari tercatat berada di level 100. Posisi ini menunjukkan kondisi jenuh beli atau overbought, yang berarti ruang kenaikan harga dalam waktu dekat berpotensi terbatas.
Proyeksi Perdagangan Hari Ini
Dengan mempertimbangkan indikator teknikal tersebut, pergerakan harga batu bara pada perdagangan Rabu (14/1/2026) diperkirakan tidak akan terlalu agresif. Harga cenderung bergerak terbatas sambil menunggu sentimen baru dari pasar global.
Target resisten terdekat diperkirakan berada di kisaran US$ 108 hingga US$ 111 per ton. Jika mampu menembus area tersebut, target resisten paling optimistis berada di sekitar US$ 118 per ton.
Sementara itu, dari sisi bawah, level support terdekat berada di area US$ 105 per ton. Apabila tekanan jual meningkat, harga berpotensi menguji area support lanjutan di rentang US$ 104 hingga US$ 98 per ton.
Secara keseluruhan, meskipun potensi koreksi tetap ada, tren harga batu bara saat ini masih ditopang oleh sentimen kebutuhan energi global. Selama permintaan tetap kuat dan transisi energi belum sepenuhnya stabil, batu bara diperkirakan masih akan memainkan peran penting di pasar energi dunia.